Kamis, 23 April 2015

Autobiografi Ki Narto Sabdo

Latar Belakang Kehidupan Kesenimanan Nartasabda
Oleh : Indriyanto, S.Sn., S.Pd.

            Nartasabda lahir pada tanggal 25 agustus 1925 di Krangkungan, Pandes, kecamatan Wedi, dan masih termasuk kedalam distrik kabupaten Klaten. Nartasabda lahir dengan nama Soenarta, ia anak bungsu dari pasangan Parta Tinaya dengan Kencur dan mempunyai tujuh orang saudara. Sejak berusia tiga tahun, Soenarta sudah menunjukkan rasa ketertarikannya pada bidang seni. Bersama kakanya yang bernama Mardanus, ia selalu mengikuti ayahnya bila klenengan atau mengiringi pentas pakeliran Ki Kandha Disana dari Pedan maupun Ki Ganda Warsana dari Ceper (salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten). Hal tersebut berlangsung terus sampai ia dapat memainkan semua ricikan gamelan, yakni sekitar tahun 1936. saat itu Soenarta sudah menguasai permainan rebab, gender, dan kendang tanpa ada yang mengajarinya (Sumanto, 2002:17-18). Memang dalam kalangan seniman tradisional terutama dalang, pada saat itu para anak-anak dalang tidak diberi pelajaran kesenian secara khusus. Mereka mempelajarinya secara otodidak dengan cara hanya mengikuti pentas orang tuannya atau orang lain yang dianggap sebagai guru, sehingga anak tersebut belajar secara tidak langsung.
            Pada tahun 1933, Soenarta masuk sekolah Standard School Muhammadiyah di Jogonalan Klaten. Tiap sore ia bersama kakak perempuannya yang bernama Soemarsih belajar menari di Irobangsan, Wedi di bawah asuhan Raden Mas Suradji dari Surakarta. Karena keterbatasan orang tuanya dalam hal biaya, terpaksa ia putus sekolah saat duduk di kelas dua. Sementara bakat seni Soenarta makin berkembang setelah Romo Hardja Suwonda memasukkannya ke Sekolah Katolik. Di sana Soenarta mulai belajar melukis, menyanyi, memainkan gitar dan biola. Pada tahun 1936 Soenarta ikut rombongan Wayang Orang Sri Cahya Mulya selama dua bulan. Kemudian ia mengikuti Ki Pudja Sumarta seorang dalang dari Kuwasa, Klaten sebagai seorang pemain kendang. Selama mengikuti ki Pudja Sumarta inilah perhatian Soenarta terhadap pedalangan sudah mulai nampak. Setiap pulang dari pentas ia berusaha menirukan sulukan, narasi dan dialog tanpa memperdulikan caci maki serta hinaan dari rekan-rekannya (Sumanto, 2002:19-20)
            Sebelum menekuni dunia pedalangan, ternyata Soenarta telah mengikuti beberapa rombongan kesenian ketoprak maupun wayang orang. Rombongan kesenian yang pernah diikuti antara lain; ketoprak Budi Langen Wanodya, ketoprak Sri Widodo, ketoprak Sri Wandawa. Baru pada awal bulan November 1945, Soenarta ikut rombongan wayang orang Ngesthi Pandawa pimpinan Sastra Sabda. Berkat kemampuannya dalam karawitan, pada sekitar tahun 1950-an ia dipercaya sebagai pemain kendang sekaligus memimpin karawitan. Lebih dari itu, ia bahkan diangkat menjadi suadara muda Sastra Sabda dan diberikan tambahan nama Nartasabda. Selain sebagai pemain kendang, Nartasabda kadang-kadang berperan sebagai dalang wayang orang menggantikan peran Kasido apabila yang bersangkutan berhalangan hadir. Gaya penyuaraan narasinya meniru gaya Kasido, sulukan meniru Ki Pudjasumarta sedangkan keprakan-nya  menggunakan teknik yang dipakai dalam wayang kulit. Melihat penampilan Nartasabda sebagai dalang wayang orang mengesankan hati Sastra Sabda yang kemudian mendorong Nartasabda untuk lebih mendalami pedalangan wayang kulit. Pada mulanya Nartasabda membaca berbagai buku pedoman pedalangan (Jawa = pakem), kemudian atas bimbingan Gita Tjarita seorang dalang dari Surakarta yang tinggal di Semarang, Nartasabda mulai belajar menggerakkan wayang dan untuk lebih mendalaminya ditempuh dengan melihat pertunjukkan wayang (Sumanto, 2002:30-31)
            Gaya pedalangan yang dipakai Nartasabda pada awal kemunculannya berkiblat pada pakeliran gaya Surakarta dengan meniru gaya Ki Pudja Sumarta. Nartasabda beranggapan Ki Pudja Sumarta lah gurunya, meskipun ia sama sekali belum pernah diberikan pelajaran pedalangan secara langsung oleh ki Pudja Sumarta. Kiranya wajar bila pada awal penampilannya sebagai dalang berkiblat pada gaya Ki Pudja Sumarta, karena antara tahun 1936 sampai sekitar tahun 1939 Nartasabda menjadi pemain kendangnya (Sumanto, 2002:48). Nartasabda juga berguru pada Wignya Soetarna seorang dalang dari Pura Mangkunegaran. Tokoh ini terkenal mempunyai kelebihan dalam hal dramatisasi catur maupun sanggit dan mempunyai ciri khusus dalam bentuk bantahan. Pada gilirannya gaya tersebut banyak ditiru oleh Nartasabda (Sumari, 1996:100). Hal tersebut sangat lumrah terjadi di lingkungan para dalang karena menjadi suatu kebiasaan bahwa gaya pedalangan dalang-dalang terkenal (senior) sangat mempengaruhi gaya pedalangan dalang-dalang muda (yunior). Dalang-dalang muda sengaja mencontoh, karena menurut pandangan mereka gaya-gaya pedalangan dalang-dalang tenar pantas dijadikan pathokan (Jawa = ugeran). Selain itu juga dapat menjadi kunci keberhasilan pedalangan (Clara Van Groenandael, 1987:118).
            Seiring dengan perjalanan waktu, Nartasabda mulai tidak ketat mengikuti gaya pedalangan gaya Surakarta. Ia mulai berani melakukan perubahan-perubahan dalam penggarapan unsur-unsur pedalangan, baik itu sulukan, adegan, iringan yang digunakan dan masih banyak lagi. Perubahan yang dilakukan Nartasabda pada awalnya mendapat tentangan dari kalangan seniman tradisi  terutama para dalang-dalang karena dipandang telah menyimpang dari aturan-aturan yang sudah diakui secara konvensional (pakem yang sudah ada). Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya dalam berkarya dan justru lewat perubahan yang dilakukannya ternyata mampu meraih simpati penonton yang pada akhirnya mampu mengangkat Nartasabda sebagai dalang termasyur dan termahal pada jamannya.

Pengertian Wahyu Makutharama


Pengertian Wahyu Makutharama

           Oleh : Indriyanto, S.Sn.
 Sebelum berbicara lebih mendalam mengenai lakon Wahyu Makutharama, terlebih dahulu akan dibicarakan mengenai pengertian wahyu itu sendiri. Bagi sebagian masyarakat Jawa masih banyak yang beranggapan bahwa wahyu adalah wujud kelimpahan rahmat dan pencerahan Tuhan kepada seseorang, sehingga orang yang mendapatkan wahyu atau kewahyon dapat dikatakan hidupnya akan berhasil secara lahir dan batin. Dengan demikian wahyu dimaknai sebagai tanda perubahan seseorang mengarah kepada kebaikan, kesuksesan, dan kemasyhuran yang juga berguna bagi kesejahteraan orang banyak. Untuk mencapai semua itu, manusia Jawa biasanya melakukan laku batin antara lain; bertapa, berpuasa, mengurangi tidur, berpantang, atau mengunjungi tempat-tempat yang dianggap sakral dan masih banyak yang lainnya.
Pada khalayak ramai muncul beragam pendapat tentang makna wahyu. Harun Nasution dalam bukunya Filsafat Agama mengartikan wahyu sebagai suatu kebenaran yang datangnya langsung dari Tuhan kepada salah seorang dari hamba-Nya. Dengan kata lain, wahyu terjadi karena adanya komunikasi antara Tuhan dan manusia (1979: 21). Wahyu juga berarti kemuliaan Illahi, keuntungan, kejayaan (Sastro Amidjojo, 1964: 112).
            R.S. Subalidinata dalam GATRA Majalah Warta Wayang no.6 th. 1985 memberikan  pengertian tentang wahyu sebagai berikut:
          Wahyu adalah pulung nugrahaning Allah (kebahagiaan anugerah Tuhan), wahyu adalah Wedharing Allah menggahing prakara gaib (keterangan Tuhan mengenai perkara gaib). Kebanyakan orang menganggap wahyu sama dengan pulung. Ketiban wahyu (kejatuhan wahyu) sering dikatakan ketibaban pulung. Pulung tidak lain anugerah, keuntungan, kebahagiaan atau kemuliaan (1985: 13).

            Menurut Sri Mulyono dalam Wayang dan Filsafat Nusantara, wahyu adalah “sabda sejati”, dengan demikian wahyu ini tidak berujud benda, tetapi berujud ajaran-ajaran, petunjuk-petunjuk atau dalil-dalil dari Sang Hyang Wisesa Jati (1982: 54). Wahyu merupakan suatu anugerah dari Tuhan untuk umat pilihan-Nya dan bukan bersifat kebendaan atau keduniawian namun bersifat kerohanian (Tristuti, wawancara 11 Agustus 2003).
            Sementara Hardo Suti, seorang dalang di daerah Wonogiri memberikan makna wahyu sebagai berikut:
Wahyu menika setu-setunggaling bab ingkang digayuh bisa gawé kasembadaning karep. Ingkang dipun wastani ingkang sampun kewahyon menika tegesé wis kecekel kekarepané” (wawancara 31 Juli 2003).

Terjemahan:

Wahyu merupakan sesuatu hal yang dicari agar bisa tercapai tujuannya. Yang dimaksud sudah kewahyon berarti sudah tercapai cita-citanya.

            Dalam dunia mitos Jawa ada sebagian golongan mempercayai bahwa wahyu itu memang ada dan berujud. Fenomena  tersebut dapat kita lihat dalam cerita-cerita rakyat atau dalam babad tanah Jawa yang menggambarkan turunnya wahyu berupa seberkas cahaya terang dan kemudian jatuh lalu menyatu dalam tubuh seseorang yang sedang melakukan tapa brata atau semedi.
            Menurut Kitab Pararaton disebutkan bahwa Ken Arok sejak bayi tubuhnya bersinar, dikatakan ia telah memperoleh wahyu keprabon (wahyu raja). Dalam Babad Mataram diceritakan bahwa Panembahan Senopati di waktu tidur ada benda yang bersinar sebesar kelapa jatuh didekatnya. Ini pertanda bahwa Penembahan Senopati telah mendapat wahyu. Raden Bagus Burhan atau yang lebih kita kenal dengan nama R. Ng. Ronggowarsito, seorang pujangga besar dari Kraton Surakarta ketika waktu kecilnya sedang tapa kungkum (bertapa dengan cara berendam dalam air) ada seberkas sinar menghampirinya, dikatakan ia mendapat wahyu (Subalidinata 1985:13).
            Menurut Toto Atmodjo, di kalangan orang tua dahulu mempercayai jika ada seberkas cahaya berwarna biru yang turun dari langit ada waktu malam disebut wahyu (wawancara 31 Juli 2003). R.M. Sajid dalam bukunya Bauwarna Kawruh Wajang, jilid 2 menerangkan bahwa wahyu berwarna putih kehijauan yang merupakan campuran dari mutiara, emas dan perak.
            Masih berkaitan dengan kepercayaan tentang wujud wahyu, Naryacarita dalang senior dari Kartasura, Sukoharjo menuturkan pengalaman pribadinya sebagai berikut “aku wis tau mlaku-mlaku ki weruh kaya bulan, gedhene padha karo bulan, glundhung-glundhung mubeng ngéné. Dadi jenengé wahyu. Sapa lé arep ketiban” (wawancara 30 Agustus 2003).
Terjemahan:
Saya pernah berjalan-jalan melihat seperti bulan, besarnya seukuran bulan, berputar menggelinding seperti ini. Itu namanya wahyu. Siapa yang akan kejatuhan (mendapatkannya).

            Menurut Suwardi Endraswara dalam Mistik Kejawen, Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa mengklasifikasikan wujud wahyu menjadi 3 macam, yaitu: (a) wahyu nurbuwah, yaitu wahyu keraton. Wahyu ini akan menandakan siapa yang kuat menjadi raja. Namun hal ini juga bisa dikiaskan sebagi bentuk kekuasaan, atau dengan kata lain siapapun yang mendapatkan wahyu jenis ini akan mendapatkan kedudukan tertentu; (b) wahyu kukumah, yaitu berupa cahaya berwarna kuning keemasan sebagai wahyu bagi seseorang yang akan menjadi raja yang adil paramarta; (c) wahyu wilayah, yaitu wahyu yang diterima oleh seorang wali. Jika menerima wahyu ini, ia berhak menyebarkan wahyu Tuhan (2006:270-271)
            Dari berbagai cerita yang berkembang di masyarakat tadi dapat kita simpulkan bahwa wahyu menurut anggapan umum hanya bertempat pada “orang-orang pilihan”. Berkaitan dengan hal itu Subalidinata dalam salah satu tulisannya mengemukakan bahwa di kalangan umum menganggap wahyu itu sesuatu yang luar biasa, tidak dimiliki oleh sembarang orang (tokoh cerita). Wahyu hanya bertempat pada orang yang jujur, murah hati, suci. Sebaliknya tidak mau bertempat pada orang yang sombong, angkuh, tamak dan sebagainya (Subalidinata, 1985: 20).
            Dari keanekaragaman pendapat tentang wahyu tersebut di atas kita tidak dapat menyalahkan pendapat si A maupun si B atau menganggap pendapat si C yang benar. Namun secara garis besar dapat disimpulkan bahwa wahyu merupakan sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia, anugerah, mukjizat dari Tuhan untuk kebahagiaan umat-Nya.
            Setelah sekilas mengupas makna wahyu, selanjutnya penulis akan mencoba mengupas makna harfiah dari Makutharama itu sendiri. Menurut Sri Mulyono dalam buku Wayang dan Filsafat Nusantara mengartikan “makutha” sebagai suatu simbol atau status kewibawaan kerajaan dan kekuasaan duniawi, sedangkan “rama” diartikan sebagai Wisnu. Dengan demikian menurut Sri Mulyono, Wahyu Makutharama merupakan ajaran kepemimpinan dari Dewa Wisnu (1982: 54-55). Pendapat yang senada disampaikan oleh Timbul Hadi Prayitno seorang dalang senior dari Yogyakarta yang pendapatnya dikutip oleh Mas’ud Toyib dalam Majalah Pedalangan dan Pewayangan CEMPALA edisi Maret 1997 yang menyebutnya dengan lakon Wahyu Sri Makutharama. Kata “sri” memperkuat pengertian ratu/raja (pemimpin). Wahyu Sri Makutharama mengandung arti ajaran kepemimpinan (1997: 7). Tristuti Rahmadi Suryo Saputro berpendapat bahwa makutha adalah pengagemaning narendra (pakaian raja) sedangkan Rama adalah nama seorang raja di Pancawati. Dengan demikian Makutharama memiliki makna suatu wujud dari angger ugering keprabon (garis-garis besar kepemimpinan) yang pernah dipakai oleh Prabu Rama dan karena begitu mulianya ajaran tersebut sehingga derajadnya disamakan dengan wahyu (wawancara 3 Desember 2003).
            Sementara itu Naryacarita mengartikan Makutharama sebagai berikut:
Makutharama kuwi tegesé ngéné, makutha ki agem-agemaning Rama. Rama nalika dhèwèké dadi ratu, kuwi dadi piwulang njut dadi ASTABRATA kaé,  dadi lé diarani Makutharama ki agem-agemané Rama nalika dadi Ratu” (wawancara 30 Agustus 2003).

Terjemahan:

Makutharama itu artinya begini, makutha adalah pakaian (pegangan) Rama sewaktu bertahta, itu menjadi sebuah ajaran kemudian menjadi ASTABRATA, jadi yang dimaksud Makutharama itu merupakan pegangan (ajaran) Rama sewaktu menjadi raja.

            Siswa Harsaya dalam Serat Wahju Makutharama (Hasta Brata Kawedhar) Sinawung Sekar Matjapat pupuh ke 16 pada Sekar Sinom menyebutkan:
18.  Wruhanta iku kerasan, pamoré tembung tri warni; Wahju Makutha lan Rama, lungguhé sawidji-widji, wahju iku kang dadi jekti, kanugrahaning Hyang Agung, Makutéku; busana, agemé para Narpati, kang pinundhi dumunung anèng Makutha.

19.  rama iku karepira; Rama Widjaja sang Adji, ija Sri Bathara Rama, Naréndra ing Pantjawati, ing Ngajodya nagari, kang samengka sang prabu wus, murud ing kasuwargan, malaj kabaré manitis, mring Sri Kresna naranata ing Dwaraka.

20.  Dadi surasaning kata, Wahju Makutharamaki, jéku nugrahaning suksma, kang anggung pinundi-pundi, Rama Widjaja Adji, nalika djumeneng ratu, puwara Prabu Rama, djumeneng Sunarapati, kontap ing rat dadya darsananing djagad (Siswo Harsojo, 1960).

Terjemahan secara bebas:
           
18.  Ketahuilah bahwa makna dari tiga kata; wahyu, makutha dan rama. Masing-masing mempunyai makna sendiri-sendiri. Wahyu adalah anugerah dari Tuhan, Makutha adalah busana raja yang dikenakan di kepala.

19.  Rama maksudnya adalah Sang Prabu Rama Wijaya disebut juga Sri Bathara Rama seorang raja di Pancawati dari negara Ayodya yang telah wafat dan menurut berita telah menitis kepada Sri Kresna raja Dwaraka.

20.  Jadi makna kata wahyu Makutharama adalah anugerah dari Tuhan yang sangat dihormati oleh Prabu Rama Wijaya ketika bertahta dengan gelar Prabu Rama yang terkenal dan menjadi suri tauladan di dunia.

Dari kutipan di atas jelas dikatakan bahwa secara harfiahnya Wahyu Makutharama adalah mahkota dari Sri Rama raja di Pancawati. Dengan beberapa analisis di atas dapat disimpulkan bahwa Wahyu Makutharama mengandung pengertian sebuah anugerah yang berupa ilmu pengetahuan (ajaran-ajaran) tentang watak/konsep-konsep tentang kepemimpinan yang pernah diterapkan oleh Prabu Rama Wijaya pada jaman siklus cerita Ramayana.

Kemunculan Lakon Wahyu Makutharama


Kemunculan Lakon Wahyu Makutharama 
Oleh: Indriyanto, S.Sn.
 
Lakon Wahyu Makutharama sampai sekarang belum bisa dipastikan sejak kapan dan siapa yang pertama kali membuatnya karena tidak adanya sumber tertulis yang dapat dipakai sebagai dasar yang kuat mengenai hal tersebut. Namun diperkirakan lakon ini pada awal kemunculannya diilhami dari ajaran Hasthabrata yaitu suatu ajaran moralitas tentang jiwa-jiwa kepemimpinan yang pernah dipakai oleh Prabu Rama dalam epos Ramayana. Berkat daya kreativitas para seniman di Indonesia (khususnya para seniman di Jawa) epos Ramayana yang konon ditulis oleh Walmiki dan masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-9 serta epos Mahabharata yang konon ditulis oleh Vyasa (Kresna Dwipayana) dan dikenal orang Jawa pada abad XI yang pada mulanya merupakan dua siklus cerita yang terpisah, namun oleh para seniman di Indonesia kedua epos tadi dipertemukan sehingga menjadi suatu cerita yang yang saling berkesinambungan. Meskipun tetap diakui masih adanya pembabakan dalam siklus cerita. Berkenaan dengan  dengan hal tersebut Hazim Amir dalam salah satu tulisannya berpendapat bahwa dari fenomena tersebut berlaku prinsip sinkretisme dan mozaikisme. Bahwa setiap kebudayaan baru datang, datang pula cerita-cerita baru, sedang cerita-cerita lama tidak dibuang hanya ditambahkan atau diadakan penyesuaian-penyesuaian (1997 : 39). Menurut Ahimsa Putra yang pendapatnya dikutip oleh Dhanu Priyo Prabowo mengatakan bahwa Sinkretisme adalah upaya untuk mengolah, menyatukan, mengombinasikan, dan menyelaraskan dua atau lebih sistem prinsip yang berlainan atau berlawanan sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu sistem prinsip baru, yang berbeda dengan sistem-sistem prinsip sebelumnya ( Dhanu Priyo Prabowo, 2004:17)
Di dunia pedalangan khususnya wayang kulit purwa seringkali kita jumpai beberapa repertoar lakon yang mengisahkan pertemuan tokoh-tokoh epos Ramayana dengan tokoh-tokoh epos Mahabarata dalam satu cerita misalnya lakon Rama Nitis, Rama Nitik, Semar Boyong, Wahyu Purba Sejati, termasuk juga lakon Wahyu Makutharama. Jika dikaji lebih jauh memang agak janggal sehingga timbul cerita-cerita yang aneh, lucu, dan jauh menyimpang dari aslinya (Sri Mulyono, 1982 : 179).
Sedangkan Hazim Amir dalam Nilai-nilai Etis Dalam Wayang mengemukakan:
Hal yang paling aneh dalam cerita-cerita kreasi baru para dalang ialah adanya anakhonisme yang terjadi karena adanya cerita baru yang menyatukan Ramayana dan Mahabarata. Dalam lakon “Rama Nitis”, misalnya tokoh-tokoh Ramayana hidup dalam satu jaman dengan tokoh-tokoh Mahabarata dan banyak cerita yang lain, Anoman yang tak pernah mati terdapat dalam lakon-lakon sempalan dari Mahabarata. (1997 : 45)

Menurut Singgih Wibisono, seorang ahli linguistik dan pemerhati dunia pedalangan dalam Jagad Pedalangan dan Pewayangan CEMPALA edisi Maret 1997 menyebutkan bahwa lakon Wahyu Makutharama merupakan khas hasil ciptaan kebudayaan Indonesia khususnya di bidang pewayangan, meskipun cerita wayang bersumber dari kitab Ramayana dan Mahabarata dari kebudayaan Hindu namun di Jawa cerita ini mengalami pengolahan dan perombakan sesuai dengan sistem nilai budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia (1997 : 46). Dengan demikian telah terjadi penetralisasian wayang dari ekspresi langsung jagad Hinduisme sehingga wayang menjadi media netral yang dapat digunakan memediasi antar apa saja.
Menurut beberapa nara sumber yang penulis temui, rata-rata dari mereka tidak mengetahui secara pasti kapan lakon Wahyu Makutharama pertama kali muncul. Seperti pernyataan Naryacarita berikut ini:
Aku durung lahir Makutharama ki wis populér, kerep-kerepé dilakokké Makutharama kok. Dadi aku ora isoh ngarani laire lakon Makutharama tahun piro ora ngerti wong aku durung lair ki wis ana lakon Makutharama kok” (wawancara 30 Agustus 2003)
 
Terjemahan:

Saya belum lahir Makutharama sudah terkenal, Makutharama sering dipentaskan, jadi saya tidak bisa memastikan lakon makutharama lahir tahun berapa, saya tidak tahu karena saya belum lahir lakon Makutharama sudah ada. 

Tristuti Rahmadi Suryo Saputro memperkirakan lakon Wahyu Makutharama lahir pada jaman feodal (kerajaan) dengan maksud untuk melegitimasi kekuasaan raja pada masa itu bahwa seorang raja bukanlah sembarang orang, hanya orang-orang “pilihan Tuhan” saja yang berhak menjadi raja karena seorang raja dianggap sebagai utusan Tuhan di dunia (wawancara 3 Desember 2003). Berkenaan dengan kemunculan lakon Wahyu Makutharama pada jaman feodal, ada suatu pernyataan yang menarik dari hasil wawancara Bambang Murtiyoso dan kawan-kawan dengan R. Soetrisno yang dilakukan pada tanggal 18 Januari 1984 yang menyatakan:
Makutharama menika terjemahan saking Tajusalatin, mahkota segala raja-raja, menika ingkang nggarap Purbaningrat jaman PB kaping IX. Menika sanés anu,…..sanés karangan menika. Dados menika saduran,….dados Tajusalatin menika “Tajus” menika mahkota, tegesipun “salatin” menika raja-raja, mahkota segala raja-raja. Naming wucalkipun wonten Makutharama dipun pendhetaken wucalan ASTABRATA. Lampahan menika wujudipun lampahan sinkritisme tegesipun lampahan campuran Mahabarata kaliyan Ramayana.

Terjemahan :

Makutharama adalah terjemahan dari Tajusalatin, mahkota segala raja-raja. Itu yang membuat Purbaningrat jaman PB IX itu bukan karangan, jadi itu saduran. Dengan demikian Tajusalatin, “Tajus” itu mahkota, arti “salatin” adalah raja-raja, mahkota segala raja-raja. Namun ajaran dalam Makutharama diambilkan ajaran HASTHABRATA. Lakon tersebut merupakan lakon sinkretisme artinya lakon campuran Mahabarata dan Ramayana.  

            Menurut Poerbatjaraka, Serat Tajusalatin dikarang oleh Yasadipura pada tahun 1139 Hijriah dalam bentuk sekar macapat dan memang menyadur dari kitab Mahkota Segala Raja-raja yang berbahasa Melayu (1954:149). Dengan melihat data diatas terjadi perbedaan pendapat, sehingga sulit ditelusuri kebenaran tentang kemunculan lakon Wahyu Makutharama secara pasti.

Sanggit Lakon Wahyu Makutharama Versi Mudjaka Jaka Raharja



Sanggit Lakon Wahyu Makutharama Versi Mudjaka Jaka Raharja

Bagian pathet Nem

1.      Adegan jejer negara Astina
Tokoh            :    Duryudana, Durna, Sengkuni, Karna, Kartamarma
Isi Adegan     :    Dalam persidangan, Duryudana mengutarakan keinginannya untuk mendapatkan Wahyu Makutharama sesuai dengan petunjuk dewa yang akan diturunkan di Pertapaan Kutharunggu yang berada di Gunung Swelagiri. Karna kemudian diperintahkan mewakilinya dan atas perintah  itulah Karna bersama para Kurawa berangkat sebagai duta Prabu Duryudana. 
2.      Adegan Paseban Njawi
Tokoh            :    Sengkuni, Kurawa
Isi Adegan     :    Sengkuni memerintahkan Kurawa untuk mengiringi perjalanan Karna ke Kutharunggu untuk melaksanakan perintah Prabu Duryudana. 
3.      Adegan pertapan Kutharunggu
Tokoh            :    Kesawasidhi, Anoman, Jagal Wreksa, Maenaka, Situbanda, Garuda Mahambira, Naga Kuwera, Karna, Kurawa.
Isi Adegan     :    Begawan Kesawasidhi memerintahkan kadang bayu untuk menjaga ketertiban dan keamanan di sekitar Pertapaan Kutharunggu. Setelah para kadang bayu turun dari puncak Kutharunggu bertemu dengan Karna dan para Kurawa. Anoman melarang Karna dan Kurawa menemui Begawan Kesawasidhi, akibatnya terjadi perselisihan pendapat sehingga terjadi perkelahian antara kadang bayu dengan pihak kurawa. Perkelahian itu dimenangkan kadang bayu, bahkan senjata Kuntawijayandanu milik Karna dapat dirampas Anoman. Akibat pusakanya terampas, Karna sangat masgul dan patah semangat. Anoman meninggalkan tempat pertemuan untuk melaporkan peristiwa itu kepada Kesawasidhi. Para Kurawa kemudian membuat perkemahan untuk beristirahat dan menunggu Karna yang sedang bersedih hatinya.
4.      Adegan Pertapan Argamanik
Tokoh            :    Wibisana, Bisawarna, Kala Maruta, Kala Dahana, Kala Tirta, Kala Bantala, Kumbakarna.
Isi Adegan     :    Wibisana menyampaikan firasat yang telah diterimanya pada Bisawarna bahwa ajalnya telah tiba. Firasat itulah yang mendorong Bisawarna untuk memohon petunjuk atau bekal bagi seorang raja pewaris. Setelah Wibisana memberikan berbagai wejangan tentang kehidupan, Bisawarna diperintahkan untuk kembali ke negara Singgela. Dengan berat hati Bisawarna meninggalkan ayahnya karena itu merupakan pertemuan yang terakhir menjelang kematian Wibisana. Sebelum meninggal, Wibisana memanggil keempat raksasa kadang catur sebagai lambang nafsu Wibisana, yaitu Kala Maruta, Kala Dahana, Kala Bantala, Kala Tirta. Wibisana berpamitan kepada kadang catur akan kembali ke alam baka dan mereka diperintahkan untuk mencari Harjuna agar disempurnakan. Sepeninggal kadang catur, wibisana bersemedi, pada saat itulah arwah Kumbakarna mendatanginya. Berdasarkan pengakuannya, Kumbakarna merasa bahwa arwahnya tidak sempurna. Wibisana menyarankan agar Kumbakarna mencari Bima sebagai sarana kesempurnaan arwahnya. 

Bagian Pathet Sanga

5.      Adegan Pertapan Saptaarga
Tokoh            :    Abiyasa, Harjuna, Punakawan
Isi Adegan     :    Harjuna menemui Begawan Abiyasa untuk mengkonsultasikan tentang kepergian Kresna yang telah lama meninggalkan Dwarawati. Abiyasa memberi petunjuk masalah kepergian Kresna tidak perlu dikhawatirkan, suatu saat akan timbul dengan sendirinya. Harjuna juga diperintahkan agar berguru pada Kesawasidhi.
6.      AdeganCandhakan I
Tokoh            :    Harjuna, Punakawan, Kala Dahana, Kala Bantala, Kala Maruta, Kala Tirta
Isi Adegan     :    Dalam perjalanannya menuju Kutharunggu, Harjuna bertemu  dengan kadang catur dan menyerang Harjuna. Atas bisikan Semar bahwa mereka bukan makhluk biasa tetapi penjelmaan nafsu Wibisana, akhirnya mereka dapat dikalahkan dan disempurnakan oleh Harjuna.
7.      Adegan Hutan Krendhayana
Tokoh            :    Sembadra, Narada
Isi Adegan     :    Sembadra sedang mencari kepergian suaminya, Kesedihan Sembadra diketahui oleh dewa, sehingga Narada turun dari kahyangan ingin memberikan pertolongan. Sembadra dirubah menjadi seorang satriya bergelar Bambang Sintawaka. Dengan jalan demikian diharapkan Sembadra dapat bertemu dengan Harjuna. Dalam perjalanannya, Bambang Sintawaka disarankan untuk menolong setiap orang yang mendapat kesulitan.

Bagian Pathet Manyura

8.      Adegan Pertapan Kutharunggu
Tokoh            :    Kesawasidhi, Anoman, Harjuna
Isi Adegan     :    Anoman sedang dimarahi Kesawasidhi akibat dari kecerobohannya merampas pusaka Adipati Karna. Ulah Anoman tersebut oleh Kesawasidhi dianggap bukan sikap satriya. Apalagi maksud kedatangan Anoman ke Kutharunggu semula untuk mencari petunjuk menuju jalan kematian. Tetapi setelah menghadapi kematian malah dihindarinya. Setelah Anoman mengakui kesalahannya, ia pun diperintahkan untuk meninggalkan Kesawasidhi. Saat itulah Harjuna datang menghadap Kesawasidhi untuk berguru dan diterima. Kemudian Kesawasidhi menyerahkan Makutharama yang diakui sebagai barang titipan kepada Harjuna. Makutharama yang berisi ajaran Hasthabrata dibeberkan secara jelas dan rinci kepada Harjuna. Setelah mendapatkan ajaran Hasthabrata, Harjuna diperintahkan untuk menyerahkan Kuntawijayandanu kepada Karna. Sepeninggal Harjuna, Kesawasidhi berubah menjadi Kresna dan mengikuti Harjuna dari belakang.
9.      Adegan Candhakan II
Tokoh            :    Harjuna, Karna
Isi Adegan     :    Harjuna bertemu dengan Karna dan menyerahkan Kuntawijayandanu. Karna melihat kecemerlangan wajah Harjuna menjadi curiga. Karna yakin Harjuna telah mendapatkan wahyu dan hal itu dibenarkan oleh Harjuna. Atas dasar pengakuan itulah, Karna berambisi untuk memilikinya sehingga terjadi perkelahian antara Karna dan Harjuna yang dimenangkan oleh Harjuna.
10.  Adegan Candhakan III
Tokoh            :    Karna, Sintawaka, Harjuna, Kresna, Werkudara, Petruk
Isi Adegan     :    Setelah Karna dikalahkan Harjuna, ia bertemu dengan Sintawaka dan bersedia memberikan pertolongan melawan Harjuna. Dalam perkelahian melawan Harjuna, Bambang Sintawaka kalah dan berubah menjadi Sembadra. Pada saat itulah Kresna dan Werkudara berkumpul menemui Harjuna. Tiba-tiba Petruk datang melaporkan bahwa ada raksasa mengamuk di wilayah Kutharunggu. Werkudara kemudian mencari raksasa tersebut.

11.  Adegan Candhakan IV
Tokoh            :    Werkudara, Kumbakarna, Kresna
Isi Adegan     :    Werkudara bertemu raksasa yang tak lain adalah Kumbakarna. Keduanya berselisih pendapat sehingga terjadi perkelahian. Dalam peperangan itu Kumbakarna akhirnya manunggal ke paha kiri Werkudara. Hilangnya Kumbakarna menimbulkan kebingungan Werkudara, akhirnya Werkudara sadar setelah mendapat petunjuk Kresna.
12.  Adegan Perang Brubuh
Tokoh            :    Werkudara, Kurawa
Isi Adegan     :    Kurawa berkeinginan merebut secara paksa Wahyu Makutharama dari Harjuna namun dapat digagalkan oleh Werkudara (Harijadi Tri Putranto,1992)