Kamis, 23 April 2015

Kemunculan Lakon Wahyu Makutharama


Kemunculan Lakon Wahyu Makutharama 
Oleh: Indriyanto, S.Sn.
 
Lakon Wahyu Makutharama sampai sekarang belum bisa dipastikan sejak kapan dan siapa yang pertama kali membuatnya karena tidak adanya sumber tertulis yang dapat dipakai sebagai dasar yang kuat mengenai hal tersebut. Namun diperkirakan lakon ini pada awal kemunculannya diilhami dari ajaran Hasthabrata yaitu suatu ajaran moralitas tentang jiwa-jiwa kepemimpinan yang pernah dipakai oleh Prabu Rama dalam epos Ramayana. Berkat daya kreativitas para seniman di Indonesia (khususnya para seniman di Jawa) epos Ramayana yang konon ditulis oleh Walmiki dan masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-9 serta epos Mahabharata yang konon ditulis oleh Vyasa (Kresna Dwipayana) dan dikenal orang Jawa pada abad XI yang pada mulanya merupakan dua siklus cerita yang terpisah, namun oleh para seniman di Indonesia kedua epos tadi dipertemukan sehingga menjadi suatu cerita yang yang saling berkesinambungan. Meskipun tetap diakui masih adanya pembabakan dalam siklus cerita. Berkenaan dengan  dengan hal tersebut Hazim Amir dalam salah satu tulisannya berpendapat bahwa dari fenomena tersebut berlaku prinsip sinkretisme dan mozaikisme. Bahwa setiap kebudayaan baru datang, datang pula cerita-cerita baru, sedang cerita-cerita lama tidak dibuang hanya ditambahkan atau diadakan penyesuaian-penyesuaian (1997 : 39). Menurut Ahimsa Putra yang pendapatnya dikutip oleh Dhanu Priyo Prabowo mengatakan bahwa Sinkretisme adalah upaya untuk mengolah, menyatukan, mengombinasikan, dan menyelaraskan dua atau lebih sistem prinsip yang berlainan atau berlawanan sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu sistem prinsip baru, yang berbeda dengan sistem-sistem prinsip sebelumnya ( Dhanu Priyo Prabowo, 2004:17)
Di dunia pedalangan khususnya wayang kulit purwa seringkali kita jumpai beberapa repertoar lakon yang mengisahkan pertemuan tokoh-tokoh epos Ramayana dengan tokoh-tokoh epos Mahabarata dalam satu cerita misalnya lakon Rama Nitis, Rama Nitik, Semar Boyong, Wahyu Purba Sejati, termasuk juga lakon Wahyu Makutharama. Jika dikaji lebih jauh memang agak janggal sehingga timbul cerita-cerita yang aneh, lucu, dan jauh menyimpang dari aslinya (Sri Mulyono, 1982 : 179).
Sedangkan Hazim Amir dalam Nilai-nilai Etis Dalam Wayang mengemukakan:
Hal yang paling aneh dalam cerita-cerita kreasi baru para dalang ialah adanya anakhonisme yang terjadi karena adanya cerita baru yang menyatukan Ramayana dan Mahabarata. Dalam lakon “Rama Nitis”, misalnya tokoh-tokoh Ramayana hidup dalam satu jaman dengan tokoh-tokoh Mahabarata dan banyak cerita yang lain, Anoman yang tak pernah mati terdapat dalam lakon-lakon sempalan dari Mahabarata. (1997 : 45)

Menurut Singgih Wibisono, seorang ahli linguistik dan pemerhati dunia pedalangan dalam Jagad Pedalangan dan Pewayangan CEMPALA edisi Maret 1997 menyebutkan bahwa lakon Wahyu Makutharama merupakan khas hasil ciptaan kebudayaan Indonesia khususnya di bidang pewayangan, meskipun cerita wayang bersumber dari kitab Ramayana dan Mahabarata dari kebudayaan Hindu namun di Jawa cerita ini mengalami pengolahan dan perombakan sesuai dengan sistem nilai budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia (1997 : 46). Dengan demikian telah terjadi penetralisasian wayang dari ekspresi langsung jagad Hinduisme sehingga wayang menjadi media netral yang dapat digunakan memediasi antar apa saja.
Menurut beberapa nara sumber yang penulis temui, rata-rata dari mereka tidak mengetahui secara pasti kapan lakon Wahyu Makutharama pertama kali muncul. Seperti pernyataan Naryacarita berikut ini:
Aku durung lahir Makutharama ki wis populér, kerep-kerepé dilakokké Makutharama kok. Dadi aku ora isoh ngarani laire lakon Makutharama tahun piro ora ngerti wong aku durung lair ki wis ana lakon Makutharama kok” (wawancara 30 Agustus 2003)
 
Terjemahan:

Saya belum lahir Makutharama sudah terkenal, Makutharama sering dipentaskan, jadi saya tidak bisa memastikan lakon makutharama lahir tahun berapa, saya tidak tahu karena saya belum lahir lakon Makutharama sudah ada. 

Tristuti Rahmadi Suryo Saputro memperkirakan lakon Wahyu Makutharama lahir pada jaman feodal (kerajaan) dengan maksud untuk melegitimasi kekuasaan raja pada masa itu bahwa seorang raja bukanlah sembarang orang, hanya orang-orang “pilihan Tuhan” saja yang berhak menjadi raja karena seorang raja dianggap sebagai utusan Tuhan di dunia (wawancara 3 Desember 2003). Berkenaan dengan kemunculan lakon Wahyu Makutharama pada jaman feodal, ada suatu pernyataan yang menarik dari hasil wawancara Bambang Murtiyoso dan kawan-kawan dengan R. Soetrisno yang dilakukan pada tanggal 18 Januari 1984 yang menyatakan:
Makutharama menika terjemahan saking Tajusalatin, mahkota segala raja-raja, menika ingkang nggarap Purbaningrat jaman PB kaping IX. Menika sanés anu,…..sanés karangan menika. Dados menika saduran,….dados Tajusalatin menika “Tajus” menika mahkota, tegesipun “salatin” menika raja-raja, mahkota segala raja-raja. Naming wucalkipun wonten Makutharama dipun pendhetaken wucalan ASTABRATA. Lampahan menika wujudipun lampahan sinkritisme tegesipun lampahan campuran Mahabarata kaliyan Ramayana.

Terjemahan :

Makutharama adalah terjemahan dari Tajusalatin, mahkota segala raja-raja. Itu yang membuat Purbaningrat jaman PB IX itu bukan karangan, jadi itu saduran. Dengan demikian Tajusalatin, “Tajus” itu mahkota, arti “salatin” adalah raja-raja, mahkota segala raja-raja. Namun ajaran dalam Makutharama diambilkan ajaran HASTHABRATA. Lakon tersebut merupakan lakon sinkretisme artinya lakon campuran Mahabarata dan Ramayana.  

            Menurut Poerbatjaraka, Serat Tajusalatin dikarang oleh Yasadipura pada tahun 1139 Hijriah dalam bentuk sekar macapat dan memang menyadur dari kitab Mahkota Segala Raja-raja yang berbahasa Melayu (1954:149). Dengan melihat data diatas terjadi perbedaan pendapat, sehingga sulit ditelusuri kebenaran tentang kemunculan lakon Wahyu Makutharama secara pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar